1 Muharram 1433H
27 November 2011 | Tiada Komen |
Cetak Artikel
Salam Maal Hijrah 1433H, Salam Tahun Baru.
Lihatlah perjalanan Rasulullah SAW dan Saidina Abu Bakar As-Siddiq ketika berhijrah dari Kota Mekah ke Kota Madinah (anak panah warna merah) berbanding perjalanan biasa (anak panah warna hijau).
Perjalanan Rasulullah dan Abu Bakar adalah perjalanan tanpa menggunakan kenderaan yakni hanya berjalan kaki di jalan yang berbatu, kering, berbukit dalam serba kekurangan. Perjalanan yang meninggalkan segala kekayaan dan kemewahan.
Hijrah juga telah dilakukan oleh kaum Muhajirin yang beriman kepada Allah dan Rasulullah. Perjalanan mereka juga penuh dugaan dan cabaran.
Pengajaran Hijrah:
Seandainya jiwa umat Islam tidak KUAT yakin dengan Allah dan Rasulullah, apakah mereka mampu untuk berhijrah?
Persoalan ini merupakan pengajaran besar untuk kita. Apakah kita sekadar berhijrah atau berubah namun keyakinan kepada Allah dan Rasulullah tidak pernah meningkat.
Kita mampu tahu sejauh mana kekuatan kesedaran kita pada Allah. Seandainya diri asyik tidak puas hati dengan sesiapa pun jua atau dengan banyak hal yang berlaku (sering cerita di status FB) itulah penanda bahawa kita masih banyak protes dengan Allah.
Inilah salah satu ukuran mudah untuk kita mengetahui kekuatan kesedaran dan keimanan kita pada Allah.
Lalu apakah dengan kekuatan iman sebegini kita mampu untuk berhijrah? Sedangkan hijrah atau perubahan memerlukan kesedaran dan keimanan yang kental dan sentiasa yakin dengan Allah SWT.
Ketika diri yakin dengan Allah, pasti akan menerima segala kehendakNya iaitu menerima Af’al (perbuatan) Allah SWT tanpa ada protes apa pun.
“Aku bukan mengeluh pada Allah, aku komen orang sahaja”. Ini juga sebenarnya protes pada Allah di mana secara tidak langsung protes pada keadaan. Jiwa tidak sabar akibat disempitkan Allah apabila jiwa tidak menerima kehendak Allah keadaan itu berlaku.
Semoga keimanan kita bertambah dalam menuju perubahan dengan meningkatkan kesedaran kita pada Allah SWT.
Kenal Allah -> Sedar Allah setiap saat -> Bersyukur pada Allah -> Yakin pada Allah -> Pasti akan berprasangka baik pada Allah (tidak direka-reka) -> Lebih bersemangat melakukan kerja (hasil dari taqwa) -> Sabar dalam melakukan kerja (disabarkan Allah) -> Menerima dan mengikut ketetapan Allah -> Redha, pasrah dan berserah -> Jiwa yang bahagia -> Iman bertambah disamping iman yang lalu
Wallahualam
Fuad Latip
Jiwa Positif Hidup BerTuhan
1 Muharram 1433H
Popularity: 30% [?]
Incoming search terms:
- bismillahillazi la yadurru dua (3)
- abu bakar as-siddiq (2)
- 1 muharram (1)
- perubahan meningkat keimanan (1)
- perjalanan yang penuh dugaan (1)
- pengajaran perjalanan hijrah rasulullah (1)
- niat baik mekah mesti allah bantu (1)
- kekuatan iman mampu (1)
- cepat bosan jiwa kosong ke? (1)
- bismillahillazi la yadurru download (1)
- aku dicemuh di depan orang (1)
- aku adalah apa yg hambaku fikirkan (1)
- sitihawa_mat (1)
Prasangka Yang Benar (The Power of Expectation)
24 November 2011 | Tiada Komen |
Cetak Artikel
“The Power of Expectation” yang sebenar atau prasangka yang benar itu bergantung kepada keyakinan (trust) dan percaya (believe) kita. Fitrahnya kita adalah seandainya kita yakin sesuatu itu baik, pasti prasangka kita baik.
Prasangka yang dibuat-buat pasti wujud penentangan dari jiwa. Dan jiwa tidak akan mengikut apa yang dikatakan oleh fikiran selagi sesuatu itu menjadi realiti seperti apa yang difikirkan.
Rasulullah bersabda : ‘Allah berfirman : Aku berada di dalam sangkaan hambaKu tentang diriKu. Aku menyertainya ketika dia menyebutKu. Kalau dia menyebutKu kepada dirinya, maka Aku menyebutnya kepada diriKu, kalau dia menyebutKu didepan orang ramai, maka Aku menyebutnya di depan orang dengan keadaan yang lebih baik daripada diri mereka.’ (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
Sangkaan yang disabdakan oleh Rasulullah adalah menggambar keadaan hati kita kepada Allah. Ia bergantung kepada keyakinan kita. Sangkaan yang dibuat-buat tanpa ada keyakinan pada Allah sebenarnya tetap tidak mampu membina keyakinan hati.
Lalu persoalannya, bagaimana untuk membina keyakinan?
Sentiasalah sedar dalam bersyukur. Ketika kita melalui hidup ini setiap saat kita tidak pernah terlepas walau sesaat pun menerima rahmat Ilahi.
Bersyukurlah kepada Allah dalam kesedaran kepadaNya. Bukan kepada “benda” atau “perkara” yang kita miliki. Tapi kepada Yang Maha Pemberi “benda”, “perkara” dan juga kejayaan iaitu Allah SWT.
Dengan bersyukur, keyakinan kepadaNya akan terbina dan kita akan sendiri berprasangka baik pada Allah.
[note]: Dulu saya juga faham dengan membina prasangka baik kepada Allah. Namun hati tetap tidak kuat yakin pada Allah. Namun setelah saya faham apakah yang dimaksudkan dengan prasangka dan kaitannya dengan yakin, Alhamdulillah barulah prasangka baik benar-benar datang dari hati yang yakin. Tidak lagi direka-reka.
Jika direka realitinya pasti ada penentangan dari hati.
Ini adalah pengalaman sendiri. Ramai pakar motivasi hanya sekadar meminta kita untuk prasangka baik pada Allah untuk membina keyakinan. Mereka mampu melakukan kerana hati mereka sebenarnya SUDAH SEDIA yakin pada Allah. Bagi diri kita yang yakin masih tidak kuat.. pasti ada penentangan antara fikiran dan hati.
Di sinilah saya keluar dari belenggu ini dengan memahami sebenarnya prasangka baik hadir dari keyakinan yang baik. Prasangka itulah menunjukkan keadaan hati kita. Prasangka buruk sebenarnya menggambarkan hati yang tidak yakin.
Sebenarnya yang perlu dipertingkatkan adalah keyakinan kita. Caranya adalah dengan bersyukur. Nanti pasti akan wujud prasangka yang baik dari keyakinan yang baik. Tidak perlu dibuat-buat.
Hubungan kita dengan suami/isteri serta kawan-kawan semuanya dari hati yang yakin. Seandainya tidak yakin, pasti kita tetap ada prasangka buruk walaupun fikiran cuba berulang-ulang untuk prasangka baik (affirmation). Ternyata gagal dengan prasangka yang dibuat-buat tidak berlandaskan keyakinan.
Kenal Allah->Bersyukur pada Allah->Yakin pada Allah->pasti akan berprasangka baik pada Allah->lebih bersemangat melakukan kerja->sabar dalam melakukan kerja->menerima dan mengikut ketetapan Allah->redha, pasrah dan berserah.
Sekadar perkongsian atas pengalaman.
Wallahualam
Fuad Latip
Jiwa Positif Hidup BerTuhan
24 November 2011
Popularity: 31% [?]
Incoming search terms:
- sangkaan hambaKu tentang diriKu (2)
- Aku berada di dalam sangkaan hambaKu tentang diriKu (2)
- prasangka baik (2)
- prasangka (2)
- prasangka hati (1)
- keyakinan kepada allah dengan sebenarnya (1)
- keyakinan hati kerana untuk diriku (1)
- keras hati dan prasangka (1)
- berprasangka baik dalam hidup (1)
- allah menurut apa sangkaan kita (1)
- allah itu dalam sangkaan hambaku (1)
- allah berfirman aku berada dalam sangkaan hambaku (1)
- allah berada dalam sangkaan kita (1)
- aku adalah seperti dalam sangkaan hambaku (1)
- aku adalah apa yang difikirkan hambaku (1)
Selari Dengan Kemahuan Allah.
23 November 2011 | Tiada Komen |
Cetak Artikel
Ilham adalah sebuah daya “kemahuan” dan Daya Kebaikan itulah “taqwa” sehingga sesiapa yang memiliki taqwa pasti berasa “ringan” melakukan kebaikan tanpa ada paksaan dari fikiran.
Mereka pasti bersungguh-sungguh, bersemangat, senang, bahagia dan hanya mengharapkan rahmat Ilahi di dalam melakukan kebaikan itu.
Taqwa dikurniakan oleh Allah hanya kepada sesiapa yang “dipercayaiNya”, bukan kepada orang yang TIDAK memiliki rencana apa-apa (niat untuk berbuat baik kerana SEDAR diri memikul amanah dari Allah SWT).
Semoga kita tergolong di dalam golongan orang yang diilhamkan Taqwa oleh Allah agar kita memahami apakah harus yang dilakukan hari ini selari dengan kemahuanNya.
Ketika kita bekerja di pejabat, diharapkan semua kerja kita selari dengan kemahuan Allah.
Ketika kita belajar, diharapkan semua aktiviti belajar kita selari dengan kemahuan Allah.
Ketika kita di rumah, di pasar dan di mana sahaja, diharapkan semuanya selari dengan kemahuan Allah.
Ketika semuanya selari dengan kemahuan Allah, Allahurabbi… pasti semuanya berjalan dengan lancar. Hati memiliki rasa puas dengan kerja kita, fikiran tenang dan seluruh tubuh bersungguh-sungguh dalam melakukan kebaikan itu.
Mulakan hari ini dengan niat untuk melakukan kebaikan. Rencanakan kebaikan-kebaikan yang ingin dilakukan. InshaAllah akan diilhamkan dengan daya yang baik.
Serta sentiasalah mohon perlindungan Allah SWT dari melakukan kejahatan dan kemaksiatan.
Bismillahillazi la yadurru ma’asmihi syai’un fil ardi walaa fissama’ii, Wa huwassami ul ‘alim.
(Aku berlindung dengan nama Allah yang tidak memberi kemudaratan dengan namanya apa sahaja di bumi dan langit, Dan Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui).
Fuad Latip
Jiwa Positif Hidup BerTuhan
23 November 2011
Popularity: 26% [?]
Incoming search terms:
- dengan nama allah tiada yang memberikan kemudaratan (1)
- niat melakukan kebaikan (1)
- tiada kemudaratan dengan namanya (1)
Khusyuk Solat: Jiwa Roji’un
21 November 2011 | Tiada Komen |
Cetak Artikel
Seandainya kita melakukan perjalanan pergi dan balik, pengalaman yang diperolehi pasti tidak sama walaupun menggunakan jalan yang sama. Pengalaman dimiliki di dalam perjalanan bukan terletak hanya pada destinasi perjalanan. Tetapi pengalaman itu dimiliki ketika berada dalam seluruh perjalanan itu dan ia berbeza walaupun melalui jalan yang sama.
Inilah kehidupan.. sebuah agama.. sebuah proses.. sebuah cerita yang telah dinyatakan di dalam Al-Quran.. tentang kita yang dicerita oleh Allah.
*************
Seharusnya solat yang dikerjakan sebanyak 17 rakaat sehari dalam 5 waktu diulang-ulang sejak kita pertama kali mendirikan solat hingga kini mampu menguatkan kesedaran kita pada Allah SWT dalam setiap rakaat walaupun rukunnya sama… tidak pernah berubah sejak kita mendirikan solat.
Seandainya rasanya sama, pengalamannya sama…. pasti membosankan.
Mengapa bosan? Kerana sebenarnya rohani kita tidak BERJALAN ketika mendirikan solat. Tidak kembali ke Allah dengan benar. Rohani kita diam tidak “roji’un” dan akhirnya fikiran sibuk melayani dunia. Terjadinya kelalaian dalam solat hingga dicemuh Allah dengan “celakalah bagi orang yang bersolat”.
Semoga kita tidak termasuk dalam orang yang BOSAN melakukan solat dan rasa TIDAK BOSAN itu benar hadir dari dalam jiwa. Bukan buat-buat bosan sekadar di fikiran sedangkan hati dan jasad ini berat untuk mendirikan solat.
Untuk memastikan agar fikiran kita tidak ke mana-mana ketika solat, bukanlah berusaha menfokuskan fikiran. Jika kita fokuskan fikiran… ingin fokus ke mana? ke Allah? Bagaimana kita ingin fokus fikiran ke Allah sedangkan fokus memerlukan objek fikir.
Lalu caranya bukan dengan fokus fikiran tetapi JIWA kita perlu BERJALAN mengikuti ROHANI pulang ke Allah. “ROJI’UN”.
Ketika kita berjalan…. barulah kita berasa keadaan dalam sebuah perjalanan. Seandainya jiwa tidak berjalan… kaku diam.. kita tetap berada di satu tempat. Pasti akan cepat bosan.
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan solat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (iaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (Al Baqarah 2 : 45-46)
SOLAT kembali kepada Allah…berjalan… ROJI’UN…. adalah sebuah perjalanan dan seterusnya pertemuan langsung dengan Allah.
Jiwamu harus BERJALAN wahai sahabat. Berjalan ke Allah. PASTI KAMU MEMILIKI KHUSYU’.
[note]: Memahami Roji’un, boleh baca artikel ini: Solat: Pertemuan Dengan Allah SWT.
Fuad Latip
Jiwa Positif Hidup BerTuhan
Popularity: 28% [?]
Incoming search terms:
- khusuk solat (2)
- rojiun (2)
- bagaimana ruhani pulang kepada allah (1)
- solat itu bosan (1)
- solat itu berat kecuali orang-orang yang khusyuk (1)
- sesungguhnya solat itu berat kecuali pada orang yng khusuk (1)
- sesungguhnya solat itu berat kecuali orang yang khusyuk (1)
- perjalanan rohani solat (1)
- khusyuk itu pemberian fuad latip (1)
- kesedaran tentang solat lima waktu (1)
- fikiran tak fokus semasa berpuasa (1)
- buka hati untuk solat (1)
- SOLAT ROHANI (1)
Sujud: Menghilangkan Tekanan Jiwa.
16 November 2011 | Tiada Komen |
Cetak Artikel
Lakukan ini sebaik sahaja saudara membacanya.
NAMUN KETIKA SUJUD NANTI, TIDAK PERLU MENGINGATI APA YANG SAYA TULIS INI. Jangan terikat dengan text. Tidak perlu ikut satu persatu mengikut senarai di bawah. Lakukan dengan penuh kejiwaan dan benar-benar sujud kepada Allah SWT.:
1. Duduklah seperti duduk antara dua sujud.
2. Ingatkan kembali saat-saat saudara menerima sesuatu yang menggembirakan. Saat-saat kejayaan saudara. Saat-saat yang membuatkan saudara bahagia. Saat ini kerana masih diberikan iman. Saat ini kerana terus dikasihi oleh Allah SWT yang sentiasa memberikan kesedaran agar kita kembali kepadaNya.
3. Perlahan-lahan berterima kasihlah pada Allah SWT yang menjadikan siapa kita pada hari ini.
4. Teruslah berterima kasih pada Allah. Teruslah bersyukur kerana Allah menjadikan “inilah diriku saat ini yang masih menyedariNya. Yang masih diberikan keimanan untuk terus meyakiniNya”.
5. Terus tingkatkan kesedaran saudara kepada Allah dengan perlahan-lahan komunikasi dengan Allah. “ya Allah terima kasih ya Allah kerana Engkau telah jadikan aku sepertimana sekarang ini ya Allah. Walaupun aku diuji olehMu ya Allah, syukur kepadaMu kerana Engkau masih memimpin aku terus menyedariMu ya Allah.
Ya Allah terima kasih ya Allah, banyak yang telah Engkau beri padaKu ya Allah. Tapi banyak perintahMu ya tidak terdaya untuk aku laksanakan dengan baik ya Allah.”
6. Kemudian beristighfarlah (dengan suara yang perlahan) memohon maaf pada Allah. Mohonlah maaf dengan bersungguh-sungguh.
7. Perlahan-lahan… SUJUDlah.
Terima kasih pada Allah di dalam sujudmu. Rendahkanlah hatimu terhadap Tuhanmu. Sedarilah bahawa dirimu hanyalah hamba yang dijadikan atas kehendakNya. Pujilah Tuhanmu perlahan-lahan sebutkan…
Subhaana rabbiyal a’la wabiham dih (dengan benar memuji Allah iaitu maha suciMu ya Allah Yang Maha Tinggi).
Teruskan sujud dengan memuji Allah. Selagi dirimu tidak mampu menyedariNya, teruskan. Selagi diriMu tidak mampu menyedari kehambaan dirimu dan keTuhananNya… sujudlah.
Mohonlah maaf kepada Allah dalam sujudmu. Mohonlah kemaafaan dengan benar. Mohonlah kemaafan kepada Allah.. Tuhanmu.. bukan kawan-kawan.. bukan ibu ayah.. tetapi yang sedang kamu sujud ini adalah TUHANMU. Kemudian hanya di dalam hatimu, berterima kasih pada Allah.
Elakkan untuk memohon apa-apa pun. Sujud ini adalah untuk memuj, memohon maaf dan berterima kasih sahaja. Terus berterima kasih kepada Allah.
Berterima kasih walaupun Allah menguji dengan sesuatu yang kita anggap musibah namun hari ini kita memahami tanpa ujian itu, kita tidak akan jadi seperti kita hari ini.
Lakukan sujud sebegini selalu di dalam solat Fardu dan sunat.
*********
Manafaat Sujud Sebegini
Di saat saudara di dalam jiwa difujurkan oleh Allah kerana tidak redha dengan apa yang berlaku SUJUDLAH.
Di saat saudara kecewa… SUJUDLAH.
Di saat saudara kesunyian.. SUJUDLAH.
Di saat saudara gelisah.. SUJUDLAH.
Di saat saudara geram.. SUJUDLAH.
Di saat saudara dengki dan benci.. SUJUDLAH.
Di saat saudara buntu, tidak mampu berfikir.. SUJUDLAH.
Di saat saudara bahagia… SUJUDLAH
Di saat saudara menerima sesuatu rezeki.. SUJUDLAH
Di saat saudara disayangi dan dihargai.. SUJUDLAH
Di saat saudara rindukan Allah.. SUJUDLAH
Di saat saudara ingin kembali ke Allah.. SUJUDLAH
Di saat saudara menyedari Allah.. SUJUDLAH.
Otak yang sudah menyimpan sebuah pengalaman sujud yang benar pasti akan cepat mengaktifkan sebuah rasa syukur dan pasrah bersama kemaafan kepada Allah SWT.
Ilham dari Allah mewujudkan sebuah rasa dan mengaktifkan fikiran yang disimpan di otak. Gabungan fikiran ini akan diintegrasikan oleh akal yang mampu mengenal baik dan buruk. Integrasi fikiran yang dikendalikan oleh akal akan wujud sebuah fikiran yang baru. Fikiran yang baru akan disimpan di dalam otak bersama fikiran yang lepas. Proses ini terus berulangan.
Seandainya ilham fujur yang diterima, maka fikiran-fikiran negatif akan terjana. Sukar untuk kita membuangnya melainkan kita membina fikiran-fikiran positif.
Fikiran positif tidak mampu dijana dengan memaksa otak membinanya sendiri. Hanya jiwa yang diilhamkan dengan taqwa mampu membina fikiran positif. Ketika fikiran positif lebih banyak, sendirinya fikiran negatif akan hilang (neuron dalam otak kembali ke asal tidak bersambung membentuk fikiran negatif).
Ketika kita berterima kasih di dalam sujud dengan kerendahan hati serta menyedari kehambaan diri dan keTuhanan Allah SWT, fikiran menyimpan sebuah rasa keimanan dan sujud menjadi aktiviti pengaktifan fikiran ini.
Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)…
(Al Fath 48 : 4)
Apabila kita berhadapan dengan sesuatu ujian Allah SWT, SUJUD mampu mengaktifkan rasa dan fikiran yang pernah kita alami di dalam SUJUD kita sebelum ini.
Oleh itu, ketika mendirikan solat, lakukanlah SUJUD dengan benar dan saudara akan merasai betapa nikmatnya sujud kepada Allah SWT.
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
(Al Baqarah 2 : 153)
Semoga bermanafaat. Manafaat akan dirasai ketika diri melakukan.
Fuad Latip
Jiwa Positif Hidup BerTuhan
Popularity: 35% [?]
Incoming search terms:
- tekanan jiwa (33)
- tekanan (24)
- menghilangkan tekanan (11)
- sujud (9)
- doa hilangkan tekanan (3)
- doa menghilangkan tekanan (3)
- ya allah jadikan aku redha (2)
- jiwa jiwa (2)
- sujud kepada allah (2)
- menghilangkan tekanan perasaan (2)
- ya alla walau pun aku sedih (1)
- menghilangkan tekanan suami (1)
- mengilangkan tekanan (1)
- menhilangkan tekanan (1)
- perasaan ketika sujud (1)
- tenkanan jiwa (1)
- siapa kita pada Allah (1)
- solat menghilangkan tekanan perasaan (1)
- tekanan fuadlatip (1)
- tekanan dalam kehidupan (1)
- sujud pada allah (1)
- meghilangkan tekanan (1)
- artikel teruskan sujud (1)
- bagaimana menghilangkan tekanan jiwa (1)
- bagaimana untuk menghilangkan tekanan (1)
- doa akan sentiasa dihargai orang yang disayangi (1)
- doa menghilangkan rasa tekanan (1)
- doa menghilangkan tekanan perasaan (1)
- doa supaya orang disayangi kembali (1)
- doa supaya sentiasa dihargai (1)
Tekanan Jiwa: Rasa “Pemilikan”
14 November 2011 | Tiada Komen |
Cetak Artikel
Tekanan perasaan itu wujud selagi kita berasa “PEMILIKAN” kepada apa yang kita ada. Seharusnya yang perlu ada adalah rasa tanggungjawab atas amanah Allah SWT atas setiap yang diberi.
Selagi berasa “ini/itu milik aku”, maka kita tidak mampu melepaskannya seandainya Allah mengkehendaki agar kita lepaskannya. Maka pasti kita tidak mampu berserah atas kehendak Allah SWT.
Seandainya kita berasa ia sebuah tanggungjawab di atas apa yang dikurniakan Allah, kita akan menjaga sesuatu itu dengan penuh tanggungjawab kerana Allah SWT. Ketika sesuatu itu diambil semula oleh Allah, kita tidak berasa sedih atau kecewa kerana kita mampu melepaskan sesuatu itu. Kita memahami dan menyedari bahawa kita sekadar pemegang amanah Allah. Bukan milik ke atas sesuatu itu.
Syahadah, solat, puasa, zakat dan haji adalah latihan yang Allah kurniakan untuk melepaskan rasa “pemilikan” ini.
Ketika rasa “pemilikan” ini wujud, maka seseorang itu pasti akan menjadi ego… iaitu sebuah keadaan diri yang berasa dirinya ada….”ini aku”… “itu kamu”… “ini milikku”….”itu milikmu”.
Ego is a sense of self.
That tells us “this is me”, that separates us from other beings and the environment.
So don’t try to overcome your ego, don’t fight against it you won’t win.
What you need to do is surrender to Allah.
Fuad Latip
Popularity: 32% [?]
Incoming search terms:
Jom Jadi Orang Kaya
10 November 2011 | Tiada Komen |
Cetak Artikel
Ramai orang ingin kaya dan cuba mengikut pelbagai kaedah orang yang sedia kaya. Tapi ada satu perkara yang orang kaya sendiri tidak perasan mengapa mereka kaya dan hal ini tidak pernah dilihat oleh orang yang ingin mengikut jejak langkah mereka.
Apakah perkara itu? Perkara itu adalah niat mereka. Saya yakin mereka yang kaya meletakkan niat kaya itu bukan no.1 tetapi meletakkan apa yang mereka lakukan haruslah dapat memberikan manafaat buat orang lain sebagai niat yang utama.
Kerana itu orang kaya yang sebegini akan benar-benar kaya iaitu cukup keperluan dan bahagia.
*****
Kita mungkin tidak pernah menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh seorang manusia yang kaya raya. Begitu juga dengan sahabat baginda Abu Bakar As-Siddiq.
Saudara, kita sedia tahu Nabi Muhammad sentiasa bersedekah dan membantu orang miskin. Lalu apakah baginda orang miskin? Kita hanya tahu bahawa baginda tidak ada rumah besar dan harta yang peninggalan yang banyak. Apakah baginda miskin?
Seandainya baginda miskin, pasti baginda tidak akan mampu sentiasa bersedekah dan sentiasa menyelesaikan masalah kewangan sahabat yang lain. Namun apa yang ada dalam jiwa baginda adalah membantu yang lain lebih daripada mengumpul harta benda untuk kegunaan sendiri. Baginda sebenarnya orang yang sangat kaya.
Mari kita lihat pula Abu Bakar As-Siddiq. Beliau sangat kaya. Kalau miskin, bagaimana mungkin beliau mampu memerdekakan berbelas-belas hamba dengan bayaran yang sangat mahal. Contohnya memerdekakan Bilal bin Rabah dengan nilai yang jika dinilaikan hari ini bersamaan dengan ratusan ribu ringgit.
Seandainya berbelas orang? berapa jutakah wang yang beliau ada? Apakah beliau sekadar orang kaya yang biasa-biasa? Sudah pasti beliau adalah orang yang sangat kaya raya pada zamannya.
Namun sikap pemurah beliau bukanlah bermakna beliau membuang harta. Tetapi beliau faham kehendak Allah bahawa harta yang banyak itu perlu diagihkan kepada yang lain.
Sikap pemurah itu adalah hasil keyakinan pada Allah bahawa Allah pasti akan beri lagi banyak keperluan yang diperlukan kepada beliau.
Seharusnya kita yang ingin kaya menjadikan Nabi Muhammad SAW serta sahabat baginda sebagai tokoh utama di dalam mengejar kekayaan.
Kayalah… Allah tidak melarang kita untuk mengejar kekayaan. Namun kekayaan yang dikejar itu harus benar dan caranya juga harus mengikut landasan yang telah ditetapkanNya.
Niat dan bantulah yang lain dalam keadaan apa jua rezeki yang ada. Pasti nanti dikayakan Allah. Bukan niat untuk jadi kaya terlebih dahulu kemudian baru ingin membantu yang lain. Selalunya orang yang ingin kaya dahulu baru ingin bantu yg lain pasti tidak membantu setelah kaya kerana diri tidak pernah dilatih untuk memberi. Lalu orang ini takut untuk melepaskan hartanya.
Niatlah… mohonlah pada Allah agar jiwa kita ini benar-benar bersih bersama niat untuk membantu yang lain. Kemudian jalankan niat kita dengan benar-benar membantu walaupun dengan rezeki yang ada sekarang ini. Di sinilah bukti bahawa niat kita benar-benar datang dari jiwa. Bukan rekaan fikiran.
Pasti nanti dikayakan kita oleh Allah SWT. Pasti.
Fuad Latip
Jiwa Positif Hidup BerTuhan
Popularity: 36% [?]
Incoming search terms:
- orang kaya (21)
- jadi orang kaya (5)
- kehidupan orang kaya (2)
- nabi muhamad kaya (2)
- orangkaya (2)
- aku menjadi orang kaya (2)
- sikap orang kaya (1)
- orang kaya tapi pemurah (1)
- orang kaya pemurah malaysia (1)
- orang orang kaya (1)
- membantu orang miskin (1)
- adakah rasullullah hidup miskin (1)
- kaya jiwa (1)
- kaya (1)
- jom jadi kaya (1)
- jejak langkah orang kaya (1)
- ingin mengejar cintamu ya allah dan nabi muhammad saw (1)
- doa menjadi orang kaya (1)
- style orang kaya (1)
Pengajaran Zulhijjah
5 November 2011 | Tiada Komen |
Cetak Artikel
Ketika dirimu diam di arafah. Kamu hanya perlu diam dan jiwamu berjalan dengan menyedari Allah. Bukan mulutmu terkumat kamit membaca sesuatu. Diamlah…. lepaskan hijabmu… biarkan jiwa berjalan terus ke Allah. Seandainya benar jiwa diam menyedari Allah, tidak mungkin jasadmu akan diam. Pasti segalanya tunduk jatuh tersungkur tersujud kepadaNya.
Ketika dirimu bersai’, bukan dua bukit itu (safa dan marwah) yang kamu kejarkan. Yang perlu kamu sedar bukanlah bukit safa dan bukit marwah tetapi sedarlah ke Allah SWT kerana dua bukit itu tiada apa-apa melainkan sekadar bukit.
Inilah pengajaran sai.. di mana ketika Siti Hajar mengharapkan selain dari Allah, maka dia tertipu dengan bayangan air yang ada di kedua-dua bukit itu.
Namun ketika kesedaran datang, dia benar-benar melepaskan segala harap kepada yang lain dan berharap hanya pada Allah, tidak di safa dan tidak di marwah tetapi di kaki Nabi Ismail, terpancul air yang dikenali air zam-zam. Hingga kini airnya tidak berhenti mengalir.
Ketika dirimu bertawaf, bukan kaabah itu yang kamu sedarikan. Kamu hanya berpusing kepada sesuatu yang kosong di dalamnya. Ketika kamu melihat kaabah dan membuatkan kamu terharu kerana hadir ke kaabah itu, BERHATI-HATILAH aqidahmu kerana yang harus kamu sedari adalah Tuhan yang memiliki rumah itu… bukan rumah itu.
Ketika kamu rindukan mekah, jagalah hatimu kerana yang kamu rindu itu apakah masjid, suasana, kaabah yang kosong atau rindukan pada Allah SWT. Seandainya kamu rindukan Allah, Allah sentiasa ada bersamaMu dan sangat dekat denganMu. Lalu pasti kamu akan rindu di mana saja kamu berada. Bukan rindu ketika teringat hari kamu melakukan haji atau umrah semata-mata.
Berhati-hatilah… kemana sebenarnya kesedaran kita. Ke Allah atau selain daripadaNya?
Fuad Latip
Jiwa Positif Hidup BerTuhan
Popularity: 32% [?]
Incoming search terms:
- rindu kaabah (2)
- dalil allah dekat denganmu (1)
- dalil rindu kan allah (1)
- hati yang rindukan allah (1)
- rindu kepada kaabah (1)
- rindukan kaabah (1)







